Tuesday, November 14, 2006



Bayi Kami yang ke-2 Janjane yo telat banget lagek posting soal anakku seng no 2 iki. Namanya Layyana Luthfia Rachma Mokoginta. Lahir di Yogyakarta, 4 August 2006
Sebenernya nek dipikir pikir Gusti Allah wes apikan banget karo aku ..
Puji syukur padamu Ya ALLAH.
Belum lagi syukurku diberikan isteri yang baik hati, setia, dengan izin-Nya kami diberikan amanah 2 anak buah hati kami yang lucu-lucu.

Sungguh Allah Rab yang Maha Pencipta memberikan semua ujian dan amanah ini dengan kasih dan sayangNya tiada bisa kami menghitung berapa banyak nikmat yang setiap detik diberikanNya.
Ya Allah sungguh hina hambaMu ini, tak banyak yang bisa perbuat, tak banyak yang bisa kupersembahkan untukMu dan RasulMu. Ya Allah bila aku mati, matikanlah aku dalam jalanMu, dalam agamaMu melawan segala ketidakadilan yang merobek bumiMu,

Ya Allah berikanlah kesempatan hidupku yang sekali ini untuk berjuang dijalanMu dengan segenap apa yang kupunya, Ya Allah berikanlah kesempatanku untuk membahagiakan orang tuaku, berikan lah kesempatan untuk mendidik dan membesarkan titipanMu , isteri dan anak-anakku dengan apa yang telah kau syariatkan dalam kitabMu. Ya Allah Terimakasih atas segenap kado-kadoMu ini, Ya Allah Engkaulah Maha Pemberi Engkaulah Maha Perencana.
(nurun saka afar kie.....)

Friday, December 09, 2005


New Year coming up..... finally.
New Target..New Spirit......... Thanks God I grab mt target for this 2005.
today we have meeting, me,my manager,and the big boss.
as ussual..."norman you doing well,..we will increase your target !"
that's what salesman do..
so welcome 2006.
New Customer, new project, lots of adventure....
PLEASE GOD HELP ME !!!!!!

Monday, October 03, 2005

My son ...Ridho...Ridho..


Last night we went to a restaurant in Kelapa Gading, My son start to make some "action" screaming and running around when the live music start.
I forbidded him to close with the speaker and I was so angry he ignore me.
I punish him by slashing his finger with mine..and he started to cry and afraid...I was so sorry...but I did it for good.
I am sorry Son !

Thursday, September 29, 2005



Assalaamu'alaikum wr. wb.
Sehubungan semakin dekatnya bulan suci Ramadhan, bulan yang
penuh hikmah dan barokah ini, saya ingin mencoba menyampaikan hadist hadist
nabi maupun makalah makalah yang berkaitan dengan keutamaan bulan Ramadhan,
yang Insya Allah saya ambil dari kitab "Tanbihul Ghofilin" yang artinya:
Peringatan bagi yang lupa. Tujuannya untuk menyegarkan ingatan kita kembali
bagi yang sudah tahu dan menambah pengetahuan bagi yang belum tahu. Dengan
harapan supaya dapat meningkatkan atau menambah semangat dalam beribadah
maupun menambah keimanan dalam melaksanakan ibadah puasa, tilawatil Qur an,
sedekah, Qiyamul-lail dan lain sebagainya.
Mengingat hadist nabi SAW: "Ballighu anni walau aayah"
(sampaikanlah apa yang kamu dapat dariku walau hanya seayat)
Rosulullah sendiri menyiapkan datangnya tamu agung ini (bulan Ramadhan)
sejak awal bulan Rajab, bulan Rajab disebut juga bulan Allah, di mana kita
selaku umatnya sunahkan untuk berpuasa di awal awal bulan dan dianjurkan
untuk memperbanyak Istighfar (mohon ampun) pada bulan Rajab
Begitu juga di bulan Sa'ban, bulan pembersih hati dari segala Roda'il Qulub
(kotoran hati). Kita selaku umatnya dianjurkan untuk memperbanyak zikir,
membaca Al-Qur an, membaca Shalawat dsb. Terutama pada malam Nisfu Sa'ban
(pertengahan bulan Sa'ban), pada malam itu malaikat menyampaikan laporan
tahunannya kepada Allah tentang amal perbuatan kita yang selama setahun kita
lakukan. (bukan berarti Allah tidak tahu ttg amal perbuatan kita, tanpa
laporan pun Allah sudah tahu, karena ini hanya prosedur dan program Allah
untuk menugaskan para malaikat-Nya).

Friday, September 23, 2005


Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan
melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan
rumah. "Yah, beras sudah habis loh..." ujar isterinya. Suaminya hanya
tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh
panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah..., besok Agus harus bayar
uang praktek".
"Iya..." jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah
lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "besok
beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah"
sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak
berjinjing buah kesukaannya itu.
Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "jangan lupa, pulang
beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung
dan sedikit berkelakar, "ini, anak siapa minta susunya ke siapa".
Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke
nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau
tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika
sebaliknya?
Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi
setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang
belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak
bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar
tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering
mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya
terlamun.
Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya
tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya,
nanti semua Ayah bereskan" meski dadanya bergemuruh kencang dan
otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua
gundah yang ia genggam.
Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali
gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat
lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang
dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama
menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak
perlahan-lahan.
Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah
sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi
menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam
penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu
yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.
Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu
rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka,
atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-
anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang
didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah
hari itu.
Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu
kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali.
Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia
menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa,
menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram
oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela
menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.
Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan
sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya
kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam
setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya
kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari
itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang
ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada
dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.
Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus
menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan
menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan
berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan
membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya
yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.
Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan
senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum
dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.



PERCAYA PENUH KEPADA ALLAH,
TIDAK TAKLUK KEPADA BAYANGAN BURUK


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,



Jika hati seseorang bersandar dan bertawaqal kepada Allah, tidak takluk kepada bayang-bayang buruk dan tidak pula dikuasai oleh khayalan-khayalan buruk, sedang ia percaya penuh kepada Allah dan mendambakan karuniaNya, maka dengan itu segala kegelisahan dan kegundahan akan tertangkis, sejumlah penyakit luar maupun dalam akan hilang darinya, dan akan tercipta di hatinya kekuatan, kelapangan dan kegembiraan yang tak mungkin terungkapkan olah kata.

Berapa banyak rumah sakit dipenuhi oleh penderita akibat bayang-bayang dan khayalan-khayalan rusak. Berapa banyak hal ini meninggalkan efek buruk di hati kebanyakan orang yang kuat, lebih-lebih yang lemah. Berapa banyak ia mengakibatkan kedunguan dan sakit jiwa.

Orang yang sejahtera lahir dan batin adalah orang yang dapat disejahterakan dan dikarunia taufiq oleh Allah untuk dapat menekan jiwanya dalam rangka meraih sarana-sarana yang bermanfaat lagi mampu mengukuhkan hatinya dan mengusir keguncangan.

Allah berfirman.

"Artinya : Barangsiapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya" [Ath-Thalaq : 3]

Yakni mencukupi segala yang dibutuhkannya baik dalam kehidupan religinya ataupun urusan duniawinya.

Maka orang yang bertawaqal kepada Allah, ia berhati kuat, tidak terpengaruh oleh bayang-bayang buruk dan tidak pula terguncang oleh peristiwa-peristiwa pahit. Karena, ia mengetahui bahwa yang demikian itu adalah tanda kelemahan jiwa dan kekalahan serta ketakutan yang tidak ada wujudnya yang nyata. Ia mengetahui, di samping itu, bahwa Allah telah menjamin orang yang bertawaqal kepadaNya untuk dicukupiNya dengan sempurna. Maka, iapun percaya penuh kepada Allah, tenteram dan yakin dengan janjiNya. Dengan itu, sirnalah kegelisahan dan keguncangannya. Kesulitan yang dihadapinya berganti menjadi kemudahan, kesedihan berganti menjadi kegembiraan, dan rasa takut serta kekhawatirannya berganti menjadi rasa aman dan tenteram. Kita memohon kepada Allah, semoga Dia mengaruniai kita kesejahteraan, kekuatan dan keteguhan hati, dengan lantaran tawaqal sepenuhnya kepadaNya, yang dengan itu Allah menjamin bagi orang-orang yang bertawaqal segala kebaikan dan menangkis segala cobaan maupun marabahaya.


[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma'ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

Wednesday, September 21, 2005

today is not a good day.
i spent almost a half day in campus to searching journal as My lecture required...........
ooooooooo Nooooooooooooo the connection is very terrible Man.!

Hari ini ada berita .......
Sekelompok orang dengan meneriakkan takbir meluluhlantakan perkampungan JAMAAH AHMADIYAH di Cianjur................................. kuat dugaan mereka (ngakunya) tentu ISLAM.
wah...................sedih juga .....
Voltaire pernah bilang
"Aku tidak suka kamu berbeda pendapat denganku tapi hak berpendapatmu aku akan bela mati2an"
Terhadap yg Non Isalam saja kita baik baik saja kenapa kepada yang sesama Islam kita tega ????

Friday, September 16, 2005

“Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fii sabiilillah”. (HR. Imam Ahmad).
Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang baik, Indonesia ini negara yang paling besar jumlah umat Islamnya di dunia. Seperti kita ketahui, negara 350 tahun dijajah Belanda, 3,5 tahun dijajah Jepang.
Bedanya dengan Jepang, mereka sudah bisa bikin hand phone. Apa yang telah dilakukan oleh 200 juta orang ini?. Pabrik banyak, kita hanya jadi karyawannya saja, ya …sebesar-besar gaji karyawan?!. Di jalan-jalan juga banyak terdapat toko, kita sebagai penunggunya, pastinya semua keuntungan akan kembali pada pemilik toko.
Saudaraku yang budiman, bagaimana enterpreneurship Rasulullah SAW. Ternyata, beliau adalah seorang pedagang. Rasulullah semenjak usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun ke Syiria hafilah dagang, itu luar biasa jauhnya. Dan usia 25 tahun seperti yang kita bahas, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda.
Di Indonesia belum kita dapati pemuda kaya yang berani memberi mahar sebanyak itu. Dan yang paling dahsyat ternyata para nabi juga begitu, bahkan sembilan dari sepuluh yang dijamin masuk syurga, mereka orang-orang yang memiliki financial yang baik. Abdurrahman Bin Auf yang pergi hijrah tidak punya apa-apa, di Madinah diberi kebun kurma malah minta ditunjukkan jalan ke pasar. Hasilnya, ketika peperangan, beliau sedekah unta begitu banyak, sedekah kuda, dan beliau wakafkan dirinya untuk berjuang.
Saudaraku, jiwa wirausaha ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil, karena kalau tidak, maka potensi apa pun tidak bisa dibuat jadi manfaat. Prinsipnya, enterpreneurship itu adalah kemampuan untuk meng-create, men-design sebuah manfaat dari apa pun. Seorang wirausaha melihat batu bisa punya nilai jual. Tapi, orang yang jail lihat batu, hanya akan dipakai untuk melempar orang, ini bedanya. Sebuah kulit dengan ukuran sama akan beda nilainya tergantung penilaian seseorang.
Kalau dia punya jiwa wirausaha, kulit itu bisa dibuat sedemikian rupa menjadi sebuah hiasan yang harganya tinggi. Tapi, kalau sederhana cara berpikirnya, kulit tersebut akan dijemur, dipotong-potong, digoreng menjadi dorokdok atau kerupuk kulit. Paling tinggi harganya 200 rupiah, padahal ukurannya sama. Enaknya kalau kita menjadi orang yang mandiri, seperti para sahabat, kita sendiri yang mengatur jam kerja dan gaji karena perusahaan milik sendiri, namun tetap harus dengan ketentuan yang profesional. Kita bisa berkreasi lebih luas dan lebih banyak walaupun tentu ada syarat-syarat tertentu.
Dalam Islam, yang namanya bisnis yang untung itu adalah yang membuat orang lain merasa beruntung sebanyak mungkin. Kalau mereka beruntung dan puas, mereka bilang pada siapa pun. Mending untung sedikit tapi laku banyak dari pada untung banyak tapi laku sedikit. Belajarlah menahan diri untuk menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Banyak untung itu bagus tapi barokah, yaitu manfaat di dunia dan manfaat di akhirat.
Niat harus bagus dalam wirausaha. Jadi, jual beli bukan masalah transaksi uang dan barang, tapi jual beli itu harus jadi amal sholeh. Rahasia amal sholeh itu ada dua, Niatnya betul dan caranya benar. Jadi, anda harus tanya dahulu niatnya apa nih?. Kalau hanya sekedar beli barang, maka anda rugi, karena uang hanyalah titipan Allah. Jadi, setiap transaksi harus menjadi pahala. Jual beli itu butuh waktu, waktu itu adalah modal kita, maka harus jadi pahala.
Bagi orang yang curang, Allah SWT akan mencabut barokahnya Masalah kecurangan ini Allah jelaskan dalam Qur’an surat Al Muthoffifin. Orang curang adalah orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka akan menguranginya.
Kalau uang itu tidak barokah, dia tidak akan pernah tenang. Kalau uang itu tidak barokah, dia selalu dililit oleh kekurangan walaupun uangnya sudah melimpah. Dan kalau uang itu tidak barokah, namanya jauh lebih hina dari pada sebanyak apa pun harta yang dimiliki. Orang yang mengurangi timbangan, maka akan hancur barokahnya. Sepertinya untung, padahal kalau Allah mau membuat musibah, maka akan gampang. Contohnya, dengan gampang Allah akan membuat penyakit , semua keuntungannya habis untuk mengobati penyakitnya. Buat saja penyakit yang buat dia tidak pernah menikmati apa yang dimilikinya.
Oleh karena itu, transaksi jual beli kita harus menjadi amal sholeh. Pilihlah para pedagang yang diperkirakan berdagangnya itu menjadi kebaikan, yang kalau dia punya untung, untungnya itu juga mashlahat. Jangan sampai kita belanja kepada orang yang untungnya bisa menjadi fitnah bagi kita. Begitu pun bagi yang menjual sesuatu, usahakan kepuasan kita bukan kita yang beruntung, tapi untungkanlah sebanyak mungkin orang lain. Secara finansial untung, dan buatlah akhlak kita sebaik-baiknya, sehingga orang yang bertransaksi barang dengan kita tidak hanya mendapatkan fasilitas, tidak hanya mendapatkan barang, tapi juga melihat kemuliaan seorang penjual.
Tidak ada gagal dalam bisnis, yang gagal itu yang tidak berani mencoba. Gagal adalah sebuah ongkos sukses. Gagal itu sebuah informasi menuju sukses, asal benar mengemasnya. Keuntungan kita itu adalah punya nama baik. Jadi, nggak apa-apa untung kita pas-pasan, yang penting nama kita jadi berharga. Nah biasanya, orang-orang pemula yang belum juga untung sudah berantem sama temannya karena pembagian saham, padahal baru rencana. Pernah ada orang punya satu telor, karena terlalu keras melamunnya dalam merencanakan usaha dalam benaknya, akhirnya telor itu pecah.
Tidak sedikit orang ingin untung jangka pendek sampai membuat namanya coreng. Maka, bagi orang yang akan terjun ke dunia enterpreneurship, harus mulai kita lihat bahwa yang namanya untung itu bukan kita merasa beruntung sendiri, tapi memberikan keuntungan pada banyak orang, Jadi, uang bukanlah hal yang paling penting dalam berwirausaha.
Kita harus mulai merindukan anak-anak kita ini bukan sebagai pekerja, tapi menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi yang ada di bangsa ini tidak tergali. Repotnya, kita tuh suka ingin untung ladang enteng, kerja sedikit untung besar. Ini salah!, yang namanya untung kalau jadi enterpreneur adalah punya ilmu saja sudah untung, walaupun uang tidak untung, termasuk pengalaman bangkrut juga untung.
Oleh karena itu, coba kita didik anak-anak kita di rumah. Kalau perlu, kita menggaji mereka untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan terus membangun kemampuan berhemat mereka, kemampuan untuk tidak meremehkan jerih payah orang lain. Kalau anak-anak sudah tahu kepahitan cari uang, maka mereka akan menjadi pejuang yang tangguh dalam hidup ini. Jadi, mulailah kita biasakan mendidik anak-anak kita menjadi petarung dalam hidup ini. Contoh Rosululloh, beliau seorang anak yatim, bahkan jadi yatim piatu, tapi tidak pernah beliau kalah di dalam berjuang, karena selalu menumbuhkan jiwa wirausaha ini. Wallahu a’lam (yn/mq)***


She's a hard woman to please,
And I thought about letting her know.
She's a hard lady to leave,
and I thought about letting her go.
  • She's a tough lady to leave, but, i thought about it.
  • She's a hard lady to please, yes she is
  • I gave her laughter, she wanted diamonds.
  • I was romantic, she treated my cruelly.
  • Where is the mercy, where is the love?
  • You see, passion has a funny way of burning downand running low.
  • And suddenly it goes out and you wonder where does it go.
  • She's a hard woman to please,
  • I've thought about letting her know.She's a hard lady to leave, yes she is.
  • I gave her laughter, she wanted diamonds.She was unfaithful, treated me cruelly.
  • Where is the mercy, where is the love?
  • I'm alone at last; something inside of me knowsI could have loved in vainFor a thousand years.
  • I have to let her go.And time goes so fast and new love starts so slow.
  • I could have loved in wain for a thousand years,I have to let her go.
  • Hard woman to please, yes you are.Hard waman,tough lady,I've got to,I've got to say goodbye.
  • How can I say goodbye to my baby?How can I say goodbye to my baby?So long honey.


Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani
hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang,
anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak
muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta
keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan dan beban hutang di
bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar
Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,
menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.

Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan
dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka
berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang
disiksamalah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah
kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka berdasi
sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak kita
meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format
perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu
paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji,
adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,barat
membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.

Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang di
atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia,
sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah. Mereka bersaf-saf
berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'. Begitu rapatnya
mereka berdiri susah engkau menembusnya. Begitu sistematiknya prosedurnya
tak mungkin engkau menyabotnya. Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka
beribadah. Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan
sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah
panjang deretan saf jamaah. Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan
lintas jenis kelamin.

Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah? Bagaimana
menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke
bawah? Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang
senjata dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu
dan sekolahan.

Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari, kaki kanannya
bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak
kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti dinding keraton, tak mempan dihantam gempa dan
banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang
undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi
bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan
ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini,
meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif,
yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pistol dan mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum? Mau didudukkan di kursi tertuduh
sidang pengadilan? Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan? Percuma Seratus tahun
pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan tak akan terselesaikan.

Jadi, saudaraku, bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya mereka mau
dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang
berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan. Kita doakan Allah membuka
hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga,
orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga. Kita bujuk baik-baik
dan kita doakan mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati
menegurnya.

Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita, orang
seagama atau sedaerah, kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu
dimakruh -
makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan cipratan harta
tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. Dan lihat
kini jendela dan pintu rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu kosen, tiang, kasau,
jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. Dinding dan langit-langit,
lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan
sofa, televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai. Pagar pekarangan, bahkan
fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya. Tiba-tiba datang
serombongan anak muda dari kampung sekitar. "Ini dia rayapnya! Ini dia
Anai-anainya!" teriak mereka. "Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku.

Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam. Aku
melarikan diri kencang-kencang. Mereka mengejarkan lebih kencang lagi.
Mereka menangkapku. "Ambil bensin!" teriak seseorang. "Bakar Rayap,"
teriak mereka bersama. Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.
Seseorang memantik korek api. Aku dibakar. Bau kawanan rayap hangus.
Membubung ke udara.